Wednesday, June 26, 2019

Artikel Sejarah Pendidikan Islam "WALI SONGO DAN ISLAMISASI JAWA PERSPEKTIF PENDIDIKAN"

WALI SONGO DAN ISLAMISASI  JAWA
 PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Hafid Ghozali
2021115213, Sejarah Pendidikan Islam, Kelas B Pendidikan Agama Islam

Abstrak
Islam masuk ke Nusantara sekitar abad pertama tahun hijriyah atau pada sekitar abad ke 7 M di wilayah yang sekarang bernama Barus, daerah Medan, Sumatera Utara. Di tanah Jawa proses Islamisasi terjadi setelah ditemukannya makam di wilayah Gresik yaitu Fatimah binti Maimun. Berdirinya kerajaan Islam di Demak Jawa Tengah pada abad ke 15 (tahun 1475M ) merupakan puncak kejayaan Islam di tanah Jawa, khususnya di Jawa Tengah, karena didukung oleh para  kharismatik yang dikenal sebagai Wali Songo. Ada model-model syiar wali songo, 1.  dilakukan Sunan Giri di Gresik yaitu dengan proses pendekatan struktural, karena sebagai ulama/da’i dia juga sekaligus sebagai penguasa  tanah giri ( Raja Giri ) yang secara langsung dapat menekan terjadinya puritanisasi adat istiadat / budaya yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Model 2 , yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yaitu dengan pendekatan kultural, karena dia berada diluar kekuasaan, sehingga syiar atau dakwahnya justru melalui simpul-simpul budaya yang ada / dakwah melalui nguri-nguri kebudayaan.

Kata Kunci : Wali, Songo, Islamisasi, Pendidikan.

Pendahuluan
Terjadinya proses Islamisasi di tanah Jawa perkembangannya tidak terlepas dari peran para cendekiawan ulama kharismatik yang dikenal dengan sebutan Wali Songo atau Wali Sembilan, mereka adalah : Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat dan Sunan Muria. Islamisasi secara faktual di Jawa ditandai dengan adanya kerajaan islam pertama di Demak (kerajaan demak), dan didukung penuh oleh aktivitas dakwah  para wali dan kemudian diperkuat dengan lahirnya pondok pesantren yang didirikan oleh wali songo tersebut.
Dalam penulisan ini pembahasan tentang awal masuknya  Islam di tanah Jawa           (Indonesia), peran dakwah para wali , ajaran mereka, dan jasa mereka dalam menciptakan  pendidikan islam.
Dan untuk  menelusuri  sejarah  pendidikan kreatif  yang  dilakukan  Walisongo, khususnya  dalam  menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, hingga berhasil mendidik masyarakat Jawa dengan mengislamkan mereka dalam waktu yang relatif singkat,  tanpa kekerasan. Melalui pencarian data pustaka dan menggunakan analisis  deskriptif  dengan  kesimpulan induktif,  didapatkan  hasil bahwa Walisongo mendidik masyarakat Jawa menggunakan instrumen yang  disukai masyarakat,  seperti  pertunjukan  wayang, menggubah tembang-tembang  macapat, dan  melalui  pendekatan  budaya  yang berkembang di masyarakat.

PEMBAHASAN

Masuknya Islam di Indonesia
Para ahli berbeda-beda pendapat mengenai tentang kapan persis masuknya Islam ke Indonesia. Ada beberapa teori yang di jadikan pedoman oleh para ahli sejarah tentang bagaimana Islam itu masuk ke Indonesia dan kapan waktunya islam itu masuk ke indonesia ini.
Ketika Marcopolo bersama ayah dan pamannya dalam perjalanan Muhibbah atas utusan dari raja Kubilai Khan pada tahun 1292 melewati daerah timur laut Sumatra, diketahui bahwa waktu itu sudah terdapat orang Islam di daerah Perlak, sebelah timur Banda Aceh. Berita tentang Muhibbah ini Marcopolo  tidak menutup kemungkinan bahwa pada abad-abad sebelum itu sudah terdapat penganut agama Islam di Nusantara yang lebih dulu ada.
Menurut pendapat para ahli sejarah, Islam masuk ke tanah Jawa melalui suatu negara yang baru muncul di pantai barat jazirah Melayu, yaitu disebut Malaka. Dalam kurun waktu abad ke 14, ketika kekuasaan kerajaan Majapahit sebagai suatu kerajaan yang berdasarkan perdagangan mulai berkurang, maka bagian barat dari jalur perdagangan yang melalui kepulauan Nusantara berhasil diambil alih oleh negara tersebut. Pelabuhannya sering dikunjungi oleh pedagang-pedagang muslim dari Gujarat dan Persia. Dalam kurun waktu abad ke 13 mereka membawa agama Islam, mula-mula ke pantai timur Banda Aceh, kemudian ke Malaka, dan selanjutnya sepanjang jalur dagang ke pulau-pulau rempah di Indonesia Timur, dan juga ke kota-kota pelabuhan di pantai utara pulau jawa. Dengan demikian agam Islam tiba dari Malaka dalam kurun waktu abad ke 14, bahkan sangat mungkin sudah lebih awal.
Di antara para ahli sejarah ada yang menyatakan, bahwa Islam masuk di Indonesia sejak abad pertama Hijriyah (abad VII – VIII M)dan menurut para ahli aaran agama islam itu langsung dari negara Arab, sebagaimana kesimpulan dari “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” yang diadakan di Medan pada tahun 1963 Yang memberitakan, bahwa utusan-utusan Khalifah Mu‟awiyah bin Abi Sufyan, pada tahun 52 Hijriyah telah sampai ke hulu sungai Jambi di Sumatra Tengah. Khalifah Mu‟awiyah bin Abi Sufyan pernah mengirim surat ke Ratu Sima di Kalingga Jepara. Isi surat tersebut adalah selain urusan perdagangan juga urusan dakwah Islamiyah. Maka pada tahun 99 H. atau baru 86 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW Sri Maharaja Serindrawarman di Sriwijaya Jambi memeluk agama Islam. Inilah Raja Islam yang pertama di Indonesia. Kemudian pada akhir-akhir abad I Hijriyah, telah masuk Islam pula seorang raja di Jepara yang bernama Ratu Sima tersebut. Seorang Khalifah Bani Umayyah, bernama Umar bin Abdul Aziz, yang berkuasa pada tahun 99 – 101 H. diberitakan pernah berkoresponden dengan Maha Raja Jambi dan Ratu Sima itu. Kumpulan dari surat-surat itu, masih tersimpan baik di Granada Spanyol, sampai sekarang
Terlepas dari itu semua, memang besar sekali dugaan bahwa sebelum abad ke 11 M. agama Islam sudah masuk di pulau Jawa. Hal ini disebabkan, bahwa pada saat itu telah banyak pedagang-pedagang muslim dating berdagang sambil mengembangkan agama Islam di tanah Jawa. Dugaan ini dikuatkan oleh penemuan sebuah makam dari seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada tahun 475 H. bertepatan tahun 1082 M. dan dimakamkan di Gresik. Karenanya dapat diduga pula bahwa pada zaman Airlangga (th. 1019-1042 M) sudah ada pedagang muslim yang mengunjungi atau singgah di tanah Jawa.Bahkan dalam permulaan abad ke 13 M. yaitu zaman Kertajaya dari Kediri, agama Islam sudah tersiar luas di kalangan rakyat, hanya belum menjadi perhatian ahli sejarah, oleh Karena raja-rajanya masih tetap beragama Hindu atau Budha. Dengan perkataan lain, bahwa ketika itu agama Islam baru dikenal dan dipeluk oleh rakyat bawah dan belum masuk di kalangan raja maupun para bangsawan lainnya.
Pada masa itu (abad ke 13 M) , penduduk tanah Jawa umumnya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Kemudian dengan datangnya agam baru, yaitu Islam, dari agama Hindu dan Budha ke agama Islam. Hal ini menurut S.Soebardi, antara lain, “Karena Islam adalah suatu agama yang mempunyai upacara atau ritus sederhana meletakkan tekanan yang kuat pada masyarakat, serta karena syarat penerimaan masuk Islam juga sangat mudah”. Di samping itu, karena Islam juga tidak membedakan antara golongan bangsawan dan rakyat jelata, sementara agama mereka yang lama masih mengenal kasta-kasta.
Begitulah agama Islam tersiar dan berkembang pesat di Indonesia, khusunya di tanah Jawa. Maka apabila berita Portugis menyatakan bahwa pada tahun1498 M. beberapa kabupaten di pesisir Jawa utara sudah masuk Islam, berarti rakyat sampai buatinya sudah menjadi orang Islam. Ini dikuatkan dengan adanya seorang muballigh Islam yang telah berjasa menyiarkan.
Islam di tanah Jawa, yang wafat pada tanggal 12 Rabi‟ul Awa lth. 822 Hijriyah,bertepatan tanggal 8 April 1419 M. dan dimakamkan si Gresik, yaitu Maulana Malik Ibrahim.
Meski ada dua pendapat yang berbeda tentang awal masuknya Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, seperti dalam uraian di atas, namun keduanya dapat dikompromikan sebagai berikut:
Kemungkinan besar bahwa Islam telah masuk di Indonesia khususnya di pulau Jawa pada abad pertama hijriyah (abad VII M), namun pada masa itu Islam masih belum dikenal dan dipeluk oleh masyarakat pribumi. Asumsi ini berdasar pada dua buah catatan penting orang Tionghoa yang menyatakan, bahwa pada zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan (th. 62 H) serta semasa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (th. 62 H), sudah ada orang Islam (dari Arab) yang dating ke tanah Jawa.
Abad XII – XIII M. adalah merupakan abad pesatnya perkembangan islam di Indonesia/di Jawa. Karena ketika tahun 1258 M. Baghdad jatuh ke tangan Tartar dari Mongol, sehingga jalur perdagangannya pun pindah dari Baghdad ke Gujarat. Dalam pada itu banyak orang sufi (anggota terikat dari Baghdad) melarikan diri sambil berdagang dan berdakwah sampai di Indonesia, dan inilah antara lain yang membuat pesatnya perkembangan Islam pada masa itu.
Penyebaran Islam di Bumi Nusantara ini tidak dilakukan dengan kekerasan, teteapi dengan cara damai melalui kegiatan dakwah yang disponsori para muballigh dan saudagar-saudagar muslim. Proses Islamisasinya tahap demi tahap berjalan terus secara pasti, apalagi setelah munculnya beberapa muballigh terkenal yang disebut Wali Songo, dan setelah berdirinya kerajaan Islam di Demak Jawa Tengah.

Peran Dakwah Wali Songo
Penyiar-penyiar agama islam yang pertama, menurut sejarah keyakinan orang di Jawa adalah orang-orang keramat, yang memunyai pengetahuan yang dalam, dan di samping itu memiliki keistimewaan yang berwujud kekuatan gaib; orang keramat itu disebut “wali”. Kata Wali berasal dari Bahasa arab, yang berarti “orang yang dipelihara ole allah dari berbuat maksiat Seorang wali mendapat ilham yang berupa cahaya yang menyinari jiwanya yang memiliki kekuatan luar biasa yang disebut keramat.
Wali-wali yang terkenal sebagai penyiar agama islam yang pertama di Jawa, jumlahnya ada sembilan dan terkenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka itu adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat dan Sunan Muria. Sampai sekarang masih terdapat kepercayaan yang kuat di kalangan orang Jawa, bahkan islam yang sebenarnya ialah islam yang disiarkan oleh sembilan Wali itu. Para wali menjadi tokoh-tokoh legendaris dalam masyarakat islam Jawa. Berkenaan dengan taktik berdakwah, ada dua aliran di kalangan wali tersebut, yaitu aliran Sunan Giri dan aliran Sunan Kalijaga. Abu Zahrah menulis :

“..... aliran yang dipelopori sunan Giri sangat ideal dan berpendapat bahwa umat harus disuruh menjalankan agama yang lurus menurut asalnya. Adat istiadat rakyat yang tidak sesuai dengan agama harus diberantas, terutama adat istiadat atau kebiasaan agama Hindu-Budha. Sebaliknya, aliran Sunan Kalijaga berpendapat bahwa rakyat akan lari bila terus begitu saja dihantam pendiriannya... Da‟wah harus diselaraskan dengan kepercayaan lama. Adapun cara merubahnya dengan sedikit demi sedikit, memberi warna baru pada yang lama dan mengikuti sambil mempengaruhi .”

Besar dugaan bahwa pelaksanaan da‟wah, terutama di Jawa Tengah, banyak menggunakanan taktik Sunan Kalijaga yang juga didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Dikalangan masyarakat Jawa Sunan Kalijaga memang tidak hanya dikenal sebagai penyebar islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, tetapi dia terkenal juga sebagai pembaharu wayang ( satu kesenian Jawa tradisional yang berisi konsep asli penyembahan roh nenek moyang barcampur dengan tradisi hindu ) untuk medium penyebaran agama islam. Sunan Kalijsga dengan taktik da‟wahnya yang komunikatif itu, adalah seorang wali yang amat berperan dalam mempercepat laju islamisasi di daerah pedalaman Jawa, pada sekitar abad XV M.
Uraian diatas menunjukkan, bahwa setelah islam dibawa masuk ke tnah Jawa oleh para pedagang dan muballigh baik dari Gujarat, Persia, Arab maupun dari Malaka sendiri, maka sejak sekitar abad XIV dan XV M. Proses islamisasi sangat ditentukan dan diwarnai oleh Wali Songo  yang merupakan tokoh-tokoh penyebar islam waktu itu. Karenanya untuk mengetahui corak keislaman yang berkembang di Jawa, sangat relevan bila wejangan wali Songo dapat diketahui meski secara garis besarnya.

Wejangan atau Ajaran Wali Songo
Widji Saksono ( dalam tulisannya di majalah Ihya „Ulumiddin yang berjudul “ Islam Menurut Wejangan Wali Songo “ ) menyimpulkan bahwa :

“sesungguhnya dari Wali Songo itu hanya dari Sunan Bonang sajalah yang sampai sekarang diketahui ajarannya mu‟tamad, dapat dipegangi keasliannya dari beliau 

Oleh sebab itu, untuk mengetahui wejangan Wali Songo cukup mengetahui ajaran Sunan Bonang. Adapun alasan yang dikemukakan, antara lain :
Sunan Bonanglah instansi resmi dari Wali Songo yang paling berwewenang untuk memberikan penerangan-penerangan di bidang ilmiah pada umumnya dan diniyyah khususnya beliaulah semacam mufti di soal-soal agama.
Sunan Bonanglah murid dan putera Sunan Ampel, bersama Sunan Drajat. Dari alasan ini dapatlah sedikit banyak ajaran Sunan Bonang mewakili ajaran Sunan Ampel dan Sunan Drajat.
Sunan Bonang adalah juga sealmamater, seperguruan dengan Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati, dalam hal sama-sama berguru dari Maulana Ishak di Pasai … Sunan Bonang konon adalah juga guru pertama dari Sunan Kalijaga ….
Lebih lanjut Widji Saksono menyimpulkan, bahwa ajaran Sunan Bonang meliputi tiga pokok ilmu agama : Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, dan Ilmu Tasawuf, yang tersusun secara tertib menurut sistematika yang rapi. Kemudian maraji‟ utama yang dipakai Sunan Bonang ialah kitab Ihya „Ulumiddin karya Imam al Ghazali, dan kitab Tamhid fi Bayan al-Tauhid wa Hidayati Likulli Mustarsyid wa al-Rasyid karya Abu syakur al-Salami. Para wali itu termasuk golongan Ahlussunnah wal jama‟ah. Diantara sekian banyak wali, ada seorang yang termasuk ahli bid‟ah yaitu Syekh Siti Jenar. Sementara Sunan Kalijaga yang oleh masyarakat dikenal sebagai menitik beratkan mistik, ternyata, dari berita Babad tak melupakan syari‟at. Bahkan syari‟at dijadikan syarat mutlak bagi orang yang hendak melakukan tarekat.
Berikut ini penulis cantumkan sebagian dari wejanga Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga :

“ …. Tegesing ma‟rifatu dzatillah : kawroeha ananing pangeran kang maha loehoer jen tunggal tan kakalih sasifatira sadja langgeng kekal maha soetji tan bastoedjisim tanpa arah tan keno kaitung tan awor ano eksmatan sinoeksma .”

Arti ma‟rifatu dzatillah : Ketahuilah bahwasannya keadaan tuhan Yang Maha Luhur itu betul-betul Esa bukan dua, sifat-sifatNya semata-mata kekal abadi, Maha Suci tak berjasad badan, tanpa arah tak berbilang tak tercampur tiada manjing ( merasuk ) sebagai sukma juga tiada dirasuki oleh sukma ( jiwa ). Di bawah ini wejangan Sunan Kalijaga kepada Pandan Arang :

“Djeng Soesoenan angling aris … Manira aneda jekti, patang prakara katahnya, njibadaha saklaminem klawan angadegna iman, ngeslamna wong semarang, ngingoe santri lan kaoem, kerjaha bedoeg langgar. Dene ingkang kaping kalih dika djakat klawan lila, wadjibe kang donja akeh .“

Jeng Sunan Kalijaga berkata lembut :… kalau dikau hendak berguru padaku, wahai Pandan Arang! Aku minta tanda bukti empat perkara : beribadahlah selama hidupmu seraya siarkan iman, da‟wahlah mengislamkan penduduk Semarang, pelihara santri dan kaum untuk berjama‟ah shalat, panggil mereka dengan bedug berkumpul di langgar. Kedua kalinya, zakatlah dengan ikhlas dan ridha, itulah kewajiban bagi si kaya.

Uraian serta kutipan di atas, minimal telah memberikan gambaran sekilas tentang corak keislaman yang disampaikan Wali Songo, yakni praktek kesilaman yang meliputi syari‟at, sufisme dan konsepteologi, seperti yang ditawarkan Imam al Ghazali. Namun tidak menutup kemungkinan, jika pada perkembangan selanjutnya ada yang lebih dominan dari ketiga aspek itu, sesuai dengan kemampuan dakwah dalam meningkatkan kadar keislaman masyarakat yang semula adalah para pemeluk agama Hindu dan Budha.

Wali Songo dan Pendidikan (Pesantren)
Satu lembaga pendidikan yang diselenggarakan sejak awal perkembangan islam di Jawa, serta mempunyai peranan penting terhadap proses islamisasi di Jawad an umumnya di Indonesia, ialah lembaga-lembaga pendidikan yang di Jawa terkenal dengan nama “ Pesantren “. Menarik diketahui bahwa kata pesantren yang terdiri dari kata asal “ santri “ mendapat awalan “ pe “ dan akhirnya “ an “ menentukan tempat, jadi berate “ tempat para santri “. Secara sederhana pesantren adalah tempat pendidikan para santri. Sedang pondok adalah tempat tinggal santri. Karena pada umumnya pesantren menyediakan tempat tinggal para santri. Maka terkenallah dengan sebutan “ Pondok Pesantren “. Santri adalah orang dewasa atau remaja yang belajar ilmu-ilmu keislaman dibawah pimpinan atau asuhan seorang guru yang disebut Kyai.
Pesantren sebagai pusat pengajaran agama islam telah terdapat pada masa awal penyebaran agama islam di Jawa, terutama pada abad XIV dan XV Masehi. Syekh Maulana Malik Ibrahim ( salah seorang Wali Songo yang wafat pada tahun 1419 M ) dalam usahanya menyebarluaskan islam telah pula membuka pesantren dan mendirikan masjid di Gresik. Usaha Syekh Maulana Malik Ibrahim itu kemudian di ikuti pula oleh para Wali yang lain, di antaranya ialah Sunan Giri. Karena pengaruh Sunan Giri yang demikian luas hingga pesantrennya (Pesantren Giri) menjadi amat terkenal dan di datangi oleh santri dari berbagai daerah di Jawa, bahkan juga dari daerah lain seperti Madura, Lombok Makassar, Pulau Hitu dan Ternate.
Bermula dari beberapa pesantren yang didirikan para Wali Songo itu, akhirnya tahap demi tahap jumlahnya semakin banyak serta tersebar di berbagai pelosok daerah Jawa, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk yang memeluk agama islam. Dari pesantren itu lahirlah suatu lapisan masyarakat dengan tingkat kesadaran dan pemahaman islam yang relatif utuh dan lurus. Memang pada tahap-tahap pertama lembaga pesantren lebih memfokuskan perhatiannya pada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman islam sebagai ilmu. Dalam pada itu S. Soebardji menulis :

… bahwa pada permulaannya islam pesantren masih kuat dipengaruhi oleh unsur mistik Jawa dan nilai-nilai agama pra islam. Baru kira-kira permulaan abad XIX M pendidikan pesantren mampu melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh yang bersifat mistis dan animistis yang bersumber pada tradisi pra islam.

Keadaan seperti itu diantara sebabnya adalah : “ karena literatur keislaman karya ulama-ulama terkemuka, di Jawa ketika itu sangat langka adanya, atau bahkan tidak ada.” Ditambah lagi karena pada kedua abad pertama penjajahan belanda, telah dicanangkan suatu politik yang mempersulit terselenggaranya kontak antara umat islam di Jawa dengan umat islam di negeri-negeri lain, terutama Timur Tengah. Namun demikian diakui, bahwa dalam masa yang cukup lama, pesantren telah mampu meneruskan dan memelihara inti-inti kepercayaan islam yaitu rukun iman dan rukun islam.  Dan tampaknya, justru melalui pelayanan praktek-praktek ketarekatan tersebut, pesantren ketika itu mampu menyerap banyak pengikut yang inheren menambah cepatnya proses islamisasi di Jawa.
Pada permulaan abad XIX M., ketika kontak langsung mulai terbuka antara umat islam di Indonesia dengan dunia islam lainnya, termasuk Timur Tengah, baik melalui jama‟ah haji maupun melalui pemuda yang belajar di Makkah dan Mesir, maka sejak itulah terjadi peningkatan peran pesantren yang tidak hanya memfokuskan pada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarekatan saja. Sehubungan dengan peran pesantren itu, Zamakhsyari Dhofir mengutip pernyataan A. H. Johns, sebagai berikut :

“ Lembaga-lembaga pesantren itulah yang menentukan watak keislaman dari kerajaan-kerajaan islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran islam sampai ke pelosok pelosok… untuk dapat betul-betul memahami sejarah islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran islam di wilayah ini. 

Makna Wali Songo
Wali dan manusia adalah dua entitas yang berbeda. Untuk bisa kearah itu diperlukan  penyadaran bahwa wali-wali adalah sosok yang memili ki kelebihan, karena kedekatannya  dengan Allah SWT. Wali dapat menjadi wasilah atau p erantara yang menghubungkan antara  manusia dengan Allah. Untuk dapat menjadi wasilah tentu harus memiliki atau memenuhi persyaratan kedekatan dan kesucian atau menjadi ora ng suci.
Kedekatan tersebut diperoleh melalui upaya-upaya individual yang dilakukan seseorang  dalam berhubungan dengan Allah lewat dzikir atau wi rid dan  riyadha yang sistematis dan terstruktur.  Melalui  kedekatan  ( taqarrub )  akan  memunculkan  aura  yang  disebut  dengan  kesucian. Dengan demikian kesucian adalah level kedua yang diperoleh seseorang setelah level pertama dipenuhi, dan lewat kesucian wasilah  dapat dimaknai.
Wali  memiliki  kekuatan  supranatural  dan  manusia  biasa  hanya  memiliki  kekuatan natural.  Agar  sampai  kepada  kesadaran  diperlukan  pe nyadaran  yang  dibarengi  dengan penguatan-penguatan kelebihan dalil-dalil dan nash-nash yang memberikan rujuan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pendidikan Menyenangkan Wali Songo
Pendidikan menyenangkan melalui tembang atau seni lagu 
Dengan  keperdulian  yang  tinggi  terhadap  santrinya/ murid nya Walisongo  memahami    bahwa  pendidikan  agama  dan kemanusiaan  yang  diajarkan  kepada  masyarakat  akan  berhasil untuk mendidik masyarakat jika  dilakukan  dengan  menyenangkan.  Salah  satu  bukti bahwa sebuah keniatan walisongo  dalam  menyelenggarakan  pendidikan yang  dirasa menyenangkan  adalah  adanya  tradisi  penciptaan  tembang  atau lagu yang  pada  waktu  itu  sangat  disukai  oleh  masyarakat.  Menurut  Agus Sunyoto, hampir semua tokoh Walisongo berperan dalam  penciptaan tembang (kecuali Sunan Ampel dan Sunan Gresik). Misalnya saja, Sunan Giri, dianggap sebagai pencipta tembangtembang cilik (sekar alit) jenis Asmaradhana dan Pucung; Sunan Kalijaga  dianggap  sebagai  pencipta  tembang-tembang  cilik (sekar alit) jenis Durma; Sunan Kudus dianggap sebagai pencipta  tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Maskumambang dan Mijil; Sunan Drajat dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jeis Pangkur; Sunan Muria dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Sinom dan Kinanthi.
Kreatifitas syiar dan pendidikan sosial walisongo terlihat  dari berbagai bentuk upaya yang dilakukan agar nilai-nilai islam  yang  diajarkan  dapat  menyenangkan,  sehingga  diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Hal ini terlihat dari buah karya mereka  berupa  tembang  macapat,  lagu-lagu  pujian  keagamaan, lagu  dolanan,  dan  bentuk-bentuk  permainan  untuk  anak-anak dan remaja.
Tembang macapat yang sudah dikenal luas oleh masyarakat dimodifikasi atau di setting ulang  dan  dimasukkan  nilai-nilai  Islam  oleh  walisongo.
Diantara tembang  macapat yang dirilis walisongo tersebut adalah  gambuh,  sinom,  mijil, bapak pucung  dan  dandang  gula.  Selain  itu,  walisongo juga  menciptakan  lagu-lagu  pujian  keagamaan  untuk  segmen masyarakat umum seperti ilir – ilir, lingsir wengi dan lain-lain
Untuk  segmen  anak-anak  dan  remaja,  walisongo menciptakan lagu-lagu dolanan seperti jublak-jublak suweng, jamuran, Jelungan,  Gendi  Ferit,  Jor,  Gula  Ganti,.  Selain  itu,  walisongo  juga menciptakan model permainan (dolanan) untuk anak-anak dan remaja, seperti jitungan dantrempolo kendang. Permainan tersebut seringkali dimainkan dengan menyanyikan lagu dolanan.
Dengan kreatif, walisongo sengaja memainkan lagu-lagu dan  permainan  ciptaannya  tersebut  di  sekitar  masjid,  sehingga mendekatkan  remaja  dan  anak-anak  pada  kegiatan  masjid. 
Lagu-lagu  dolanan,  tembang-tembang  macapat  dan  berbagai  permainan  karya  walisongo  tersebut  dirancang  secara  filosofis, sehingga memiliki muatan nilai-nilai pendidikan. Sehingga, ketika tembang  tersebut  dinyanyikan,  atau  permainan  itu  dimainkan, tanpa  disadari,  nilai-nilai  pendidikan  Islam  merasuk  pada  jiwa masyarakat  dan  anak-anak.  Sebuah  model  pembelajaran  yang efektif dan menyenangkan sebagai buah kreatifitas yang dilakukan oleh walisongo.
Pilihan para wali untuk memanfaatkan lagu sebagai sarana pendidikan yang menyenangkan memang terbukti sangat efektif. Hampir semua orang dari berbagai kalangan dan usia menyenangi lagu. Lagu-lagu karangan para wali diantaranya bahkan ada yang masih  populer  hingga  sekarang.  Seperti  lagu  ilir-ilir  dan gundulgundul  pacul.  Lagu  gundul-gundul  pacul dapat  dikatakan  sebagai lagu  yang  sangat  merakyat.  Hampir  semua  masyarakat  Jawa mengenal lagu ini. Selain dinyanyikan dengan nada ceria, lagu ini juga mengandung nasehat bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Syair  lagu  gundul-gundul  pacul  tersebut  adalah  sebagai berikut:

Gundhul gundhul pacul cul,
Gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul,
Gembelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
“Kepala botak tanpa rambut ibarat cangkul
Geleng-geleng
Membawa bakul
Geleng-geleng
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan

Menurut Lusia, fungsi yang terdapat pada tembang gundulgundu  pacul  adalah  fungsi  pendidikan.  Yaitu  menggambarkan  seorang  anak  yang  gundul,  nakal,  bandel,  angkuh  dan  tidak bertanggung  jawab.  Dia  tidak  dapat  membeda-bedakan  hal-hal yang  baik  dan  buruk.  Dia  beranggapan  bahwa  dirinya  adalah orang yang paling benar, paling bisa dan paling pintar, sehingga dia  bersikap gembelengan,  yakni  sombong  dan  tak  tahu  diri.
Apabila  dipercaya  untuk  memegang  amanah  yang  menyangkut kehidupan orang banyak, dia tetap bersikap tidak peduli. Akibat dari kesombongan dan keangkuhannya itu, maka kesejahteraan dan keadilan yang semestinya didapatkan, jadi hancur berantakan. Syair  tembang  tersebut  mengandung  nilai  pendidikan  agar manusia tidak boleh sombong. Sebagaimana dicontohkan pada makna lagu tersebut, orang yang sombong, angkuh dan ceroboh akan membawa pada kehancuran dan kegagalan. Karenanya, jika kita menjadi seorang pemimpin yang diberi amanah dan tanggung jawab agar mampu mengemban amanah tersebut sebaik-baiknya, sehingga mewujud pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat


SIMPULAN
Meskipun ada pendapat yang mengutarakan bahwa Islam masuk ke Jawa / Indonesia pada abad pertama hijriyah atau abad ke 7 M, namun proses Islamisasi secara masif terjadi setelah berdirinya kerajaan Islam di Demak Jawa Tengah pada abad 15 ( tahun 1475M ), dan didukung oleh para da‟i kharismatik yang dikenal sebagai Wali Songo. Ada dua model da‟wah wali songo, pertama dilakukan Sunan Giri di Gresik yakni dengan pendekatan struktural, karena sebagai da‟i dia juga sekaligus sebagai penguasa ( Raja Giri ) yang otomatis dapat menekan terjadinya puritanisasi atas adat istiadat / budaya yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Model kedua, yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yakni dengan pendekatan kultural, karena dia berada diluar kekuasaan, sehingga da‟wahnya justru melalui simpul-simpul budaya yang ada pada saat itu.


DAFTAR PUSTAKA

Buku
Abbas, Siradjuddin. 1972. Sejarah dan keagungan Mazhab Syafi’i. Jakarta: Pustaka Tarbiyah 
Arnold, Thomas W. 1979. The Preaching of Islam, terj. Nawawi Rambe. Jakarta: Widjaja
Dhofier, Zamakhsyari. 1982. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3S
Djaja, Tamar. 1965. Pustaka Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang
Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Natsir. M. 1969. Islam dan Kristen di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang
Salam, Solihin. 1964. Sedjarah Islam di Djawa. Jakarta: Djajar Murni
Sunyoto, Agus. 2011. Walisongo; Rekonstruksi Sejarah yang disingkirkan. Jakarta: Transpustaka
Syam, Nur. 2005. Islam Pesisir. Yogyakarta: LkiS
Yusuf, Slamet Effendy, et.al. 1983. Dinamika Kaum Santri. Jakarta: CV. Rajawali

Jurnal
Risalah Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar, Medan, 1963
S. Soebardi, “Islam di Indonesia” Prisma No. Ekstra. 1978
Saksono, Widji. “Islam Menurut Wejangan Wali Songo”  Jurnal Ihya Ulumiddin No.8, Pebruari 1971
Suparjo. “Islam dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo Dalam Me bangun Masyarakat Muslim Indonesia”. Jurnal Dakwah dan Komunikasi (Komunika) Vol. 2 No. 2 Juli – Desember 2008
Yunita. Lusia Selly. “Bentuk dan Fungsi Simbolis Tembang Dolanan  Jawa”. Jurnal NOSIVol. 2, No.5, Agustus 2014
Zahrah, Abu. Demak sebagai Pusat Penyebaran Islam di Jawa “, Studia Islamika, No.2, Oktober-Desember 1976

Wawancara
Wawancara dengan Al Uztad Mustofa Dimyati Ponpes Bardan Wasalaman Sambong Batang, pada tanggal 28 Maret 2018

No comments:

Post a Comment